PELUPAAN HANOMAN

Indra segera meninggalkan tempat duduknya dan, menunggang gajah surgawi, Airavata, Ia pergi meninggalkan tempatnya. Dia mendekati Hanuman, yang melesat menembus langit seperti meteor yang menyala-nyala. Ketika Vanara itu melihat Dewa Indra yang bersinar terang menghampirinya, dia menganggapnya sebagai buah lain dan dia menuju arah Dewa Indra. Indra kemudian melepaskan senjata petirnya, menghantam Hanuman dan menyebabkannya jatuh kembali ke bumi.

 

Vanara jatuh ke puncak gunung dan tergeletak terlihat mati di sana. Melihat ini, Ayahnya Dewa Vayu menjadi marah dan dia menarik semua aliran kehidupan ke semua mahluk dan menyebabkan semua makhluk mulai sesak nafas. Dengan demikian, akibat hal ini Dewa Vayu menciptakan gangguan besar di alam semesta.

 

Indra dan semua dewa lainnya dengan cepat mendekati Vayu, yang berdiri di samping Hanuman yang tergeletak, dan berdoa kepadanya agar tidak menyebabkan penderitaan kepada mahluk hidup di alam semesta. Brahma juga muncul di sana dan bertanya kepada Vayu apa penyebab tindakannya. Vayu menjawab, “Itu karena putraku terbunuh. Lihat sekarang bagaimana anak tak berdosa ini berbaring di sini tak bergerak, dihantam oleh senjata petir Indra yang mengerikan. "

 

Brahma kemudian mengulurkan tangan dan menyentuh dada Hanuman. Sang Vanara segera hidup lagi dan terbangun melihat sekeliling. Brahma berkata, “Dengarlah para dewa, aku akan memberi tahu suatu hal tentang Vanara ini. Ia akan berhasil menjalankan tugas para Dewa di bumi dan menjadi hamba Sri Vishnu yang terkenal. Karena itu, kalian semua harus memberinya karunia. "

 

Senang mendengar kata-kata Brahma, Indra melepas karangan bunga dan meletakkannya di leher Hanuman, dengan mengatakan, "Mulai hari ini ia akan kebal terhadap petirku."

 

Dewa matahari itu kemudian berkata, “Aku akan memberikan kepadanya per seratus bagian dari kecemerlanganku. Juga, ketika dia mulai mempelajari kitab suci veda, aku akan memberikan kekuatan sehingga ia dengan cepat mempelajari semua pengetahuan itu. Tidak seorang pun akan melebihi dia dalam pemahaman kitab suci. ”

 

Yamaraja memberinya kekebalan terhadap tali pencabut nyawanya dan memberi kekuatan terbebas dari penyakit. Kuvera juga memberkatinya sehingga dia akan tetap tidak terluka dalam pertempuran. Siva berkata, “Ia akan kebal terhadap senjataku dan dari maut di tanganku.” Visvakarma menambahkan, “Vanara ini akan kebal terhadap semua senjata surgawi yang dibuat olehku dan ia akan berumur panjang.”

 

Akhirnya, Brahma berkata, “Wahai dewa angin, putramu akan tak terkalahkan dalam pertempuran. Dia akan memberikan teror kepada musuh-musuhnya dan memberikan perlindungan kepada teman-temannya. Yang paling hebat di antara kera-kera ini akan dapat mengubah wujudnya sesuka hati dan pergi ke mana pun dia suka dengan kecepatan yang dia suka. Tidak ada kutukan Brahmana yang bisa membunuhnya. Gerakannya tidak akan terhalang dan dia akan menjadi mulia. Dalam perang ia akan mencapai prestasi luar biasa yang membuat rambut seseorang berdiri tegak mendengarnya, sehingga menyebabkan kehancuran bagi Ravana dan kesenangan Sri Rama. ”

 

Setelah ini para dewa pergi dan Vayu membawa Hanuman kembali ke ibunya. Dia mulai tumbuh seperti layaknya seorang dewa. Penuh dengan kegembiraan dengan kekuatannya sendiri, dan memiliki sifat kera yang nakal, ia mulai menciptakan kekacauan bagi para Rsi di hutan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Para Rsi karena mengetahui bahwa mereka tidak bisa melukainya. Dia main-main sesukanya,  melempar dan menghancurkan bejana alat untuk upacara mereka. Terlepas dari upaya ibu dan ayahnya untuk memperingatkan dia, Hanuman melanjutkan main-mainya dan dan terus mengganggu para Rsi pertapa.

 

Akhirnya para Rsi, tidak ingin menyakiti Vanara muda yang lucu, menemukan cara untuk menghentikannya. Dengan air suci, pemimpin mereka mengucapkan kutukan. “Karena kera ini membuat masalah bagi kita dengan mengadalkan kekuatan para dewa, aku membuat dia terlupa dengan kekuatannya itu. Hanya ketika seseorang mengingatkannya kembali dengan melntunkan kejayaannya ia akan mengingat semua kekuatannya. ”

Atas kutukan itu, Hanuman lupa tentang kekuatannya dan mulai bertindak seperti halnya Vanara biasa. Sampai diingatkan kembali oleh Jambavan, Raja beruang menjelang perang melawan negeri Alengka.

Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location