Kisah Ramayana

Pengorbanan Jatayu dalam pertarungan dengan Rahwana

 

Di dalam cerita Ramayana, Jatayu adalah raja burung nasar yang sudah sangat tua. Ketika dia melawan Rahwana, dia sudah sangat tua, sudah tidak terlalu kuat lagi.

Dia melihat bahwa Ibu Sita dalam kesulitan dan Jatayu tidak ragu sedikitpun untuk melayaninya. Bukan untuk menyelamatkannya tetapi untuk melayaninya. Jatayu tidak berpikir dia bisa menyelamatkan Ibu Sita. Dia ingin melayaninya.

Disini terlihat ada perbedaan. Jatayu terbang ke langit untuk melawan Rahwana karena dia ingin melayani Sri Rama. Dia berkata, “Tubuhku tidak ada nilainya jika tidak digunakan untuk melayani Tuhan. Ibu Sita yang paling berharga bagi Sri Rama diculik. Ini adalah tugas saya untuk menghentikannya ”.

Dengan demikian Jatayu bertarung dengan Rahwana dan memberinya banyak kesulitan. Tapi kekuatan Rahwana memang lebih besar dan Ravana berhasil memotong sayap Jatayu. Jatayu jatuh dan bersimbah darah menunggu ajal tiba. Kebetetulan Sri Rama dan Lakshmana sedang dalam perjalanan dan lewat disekitar kejadian Jatayu jatuh. Melihat Jatayu dalam keadaan seperti itu, hati Sri Rama sangat iba dan bersedih. Jatayu berkata kepada Sri Rama: "Ya Tuhan, tolong maafkan aku tidak dapat melakukan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Aku telah gagal dalam pelayananku itu. Tapi aku telah mencoba dan aku mengingat apa yang tertulis dalam sastra, bahwa waktu di mana Ibu Sita dibawa pergi adalah waktu yang baik, apa pun yang pergi diwaktu itu dapat dipastikan bahwa Anda akan dapat memperolehnya kembali ”.

Jatayu bahkan dalam kondisi sekarat sperti itu berusaha melayani Tuhan dengan mengucapkan kata-kata manis untuk menenangkan Tuhan. Dia tidak harus melakukannya untuk mendapat karunia sesuatu dari Tuhan, tapi untuk memberikan pelayanan yang tulus kepada Sri Rama, Tuhannya.


Inilah suatu contoh bagaimana para Vaishnava mendekati Tuhan lewat jalan bhakti. Itulah yang dilakukan oleh Jatayu dengan pelayanan dan meditasinya kepada Tuhan Sri Rama dan hasilnya Jatayu tidak mati sia-sia tetapi ditenangkan melalui Darshan (bertemu dan bertatap muka langsung) dengan Sri Rama. 

Srimad Bhagavatam sloka 3.29.39:
 

na caasya kaschid dayito

na dveshyo na ca baandhavah
aavishaty apramatto ‘sau

pramattam janam anta-krt

"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa tidak berat sebelah, tidak ada musuh atau sahabat bagi-Nya. Beliau memberikan inspirasi kepada meraka yang tidak melupakanNya, dan Beliau menghancurkan mereka yang melupakanNya. ”

Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location