Kali-santarana berisi percakapan antara Rsi Narada dengan Dewa Brahma di suatu jaman di akhir Dvapara Yuga. Rsi Narada mendekati Dewa Brahma dan memintanya untuk menjelaskan jalan yang harus Ia ikuti untuk meringankan pernderitaan hidup di jaman Kali. Dewa Brahma mengatakan bahwa dengan mengucapkan nama suci Tuhan Narayana yang tertinggi, semua penderitaan akibat pengaruh jaman Kali akan hilang.

Sumber: wikipedia.org

Kali-Santarana Upanishad

Kalisantarana upanisad

yadahivyanama smaratam samsaro gospadayate

sva navyabhaktir bhavati tadramapadam dsraye

Inilah Kalisantarana Upanisad, amanat spiritual yang berkaitan erat dengan Nama Suci Tuhan, dan Nama Suci Tuhan itu sendiri dipermaklumkan sebagai yang dapat membangkitkan sembilan cara bhakti guna menyeberangi lautan kesengsaraan kelahiran dan kematian, mencapai pembebasan di tempat yang memberikan segala per-lindungan dan sumber segala sesuatu bersandar.

om sa ha navavaty iti santih

hari om

dvaparante narado brahmanam jagama katham

bhagavan gam paryatan-kalim santareyam iti

sa hovaca brahma

sadhu prsto asmi sarvasrutirahasyam gopyam

tacchrunu yena kalisamsaram tarisyasi bhagavata

adipurusasya narayanasya namoccaranamatrena nirahrta

kalir-bhavati

naradah punah papraccha tannama kim iti sahovaca hiranyagarbhah

hare krsna hare krsna, krsna krsna hare hare

 hare rama hare rama, rama rama hare hare

 

iti sodasakam namnam

kalikalmasanasanam

natah parataropayah

sarvavedesu drsyate

iti sodasakaldvrtasya jivasyavarana-vinasanam

tatah prakasate param brahma meghapaye ravirasmi-mandaliveti

punamaradah papraccha bhagavan ko asya vidhir iti

tam hovaca nasya vidhir iti

sarvada sucirasucir va pathan brahmanah salokatam

samipatam sarupatam sayujyatam eti

yadasya sodasikasya sarahatrikotir japati tada

brahmahatyam tarati tarati virahatyam

svama steyatputo bhavati

pitraeva-manusyanamapakarat puto bhavati

sarvadharma-parityaga-papat-sadyah sucitam danuyat

sadyo mucyate sadyo mucyate ityupanisat

harih om tat sat

om sa ha navavatviti santih iti sri-kali-santaranopanisat samapta

 

Atas karunia Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, semoga di sembilan penjuru mata-angin senantiasa damai adanya. Segala pujian kepada Sri Hari, Tuhan Yang Maha Esa.

Tersebutlah pada akhir zaman Dvapara, Maharesi Narada datang menghadap Dewa Brahma setelah bertualang ke seluruh dunia, lalu bertanya, “Wahai guru hamba yang mulia, bagaimanakah caranya agar seseorang dapat melepaskan diri dari pengaruh buruk zaman Kali?”

 

Dewa Brahma menjawab:

“Pertanyaanmu sangatlah balk. Aku akan mengungkap kepadamu rahasia yang paling rahasia dari seluruh ^ruti Sastra (Ag Veda, Yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda, dsb.), dengan mana seseorang akan dapat menyeberangi kesengsaraan kelahiran dan kematian yang terjadi berulang-ulang pada zaman Kali. Rahasia ini harus dijaga dan dilindungi.

 

Cukup dengan mengucapkan Nama-Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Narayana, seseorang terbebas dari cengkeraman zaman Kali.”

Maharesi Narada kembali bertanya sebagai berikut: “Nama suci manakah yang Anda maksudkan?”

Selanjutnya Dewa Brahma menjawab: enam belas kata maha-mantra

Hare Krsna—Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare, Hare Rama Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare

 

—secara khusus dimaksudkan untuk menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali. Untuk menyelamatkan diri seseorang dari pencemaran Kali-yuga, sama sekali tidak ada cara lain yang lebih efektif dari-pada mengucapkan maha-mantra Hare Krsna. Setelah mencari ke seluruh literatur Veda, seseorang tidak akan menemukan metode keagamaan untuk zaman ini yang lebih mulia daripada pengucapan maha-mantra Hare Krsna.

Mantra ini menghancurkan enam belas kala pada sang jiva, yang diawali dengan prana, yakni penutup berupa kebodohan. Dengan demikian Tuhan Yang Mahakuasa termanifestasi di hadapan sang jiva, sebagaimana halnya sinar matahari bersinar cemerlang setelah hilangnya awan-penutup.

 

Maharesi Narada kemudian bertanya: “Wahai guru hamba yang mulia, adakah aturan yang diperlukan dalam mengucapkan maha-mantra ini?”

Dewa Brahma menjawab: “Sama sekali tidak ada aturan yang mempersulit seseorang dalam mengucapkan keenam belas Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa ini. Kapan dan di mana pun—setiap saat—apakah seseorang dalam keadaan suci atau tidak suci, ia dapat mengucapkannya. Dengan mengucapkan maha-mantra ini maka seseorang akan mencapai keadaan terbebas dari kelahiran dan kematian, yakni moksa yang disebut salokya: tinggal dalam satu planet bersama Tuhan Yang Maha Esa, samepya: tinggal sebagai sahabat karib Tuhan Yang Maha Esa, sarupya: memperoleh bentuk serupa dengan Tuhan Yang Maha Esa, sayujya: menyatu dengan brahmajyoti—cahaya Tuhan Yang Maha Esa.

 

Jika seseorang mengucapkan mantra yang berupa enam belas Nama Suci Tuhan ini, sampai sejumlah tiga setengah koti (35.000.000), maka dosa-dosa yang diampuni akan setara dengan jika seseorang melakukan kegiatan yang me-nyebabkan terbunuhnya seorang brahmana, perwira, atau jika ia mencuri emas, termasuk dosa-dosa karena lalai atau menghina/ berbuat salah terhadap para leluhur, para dewa, bahkan kepada Tuhan, serta kesalahan terhadap sesama manusia atau yang lainnya. Dosa-dosa akibat meninggalkan segala macam dharma atau kewajiban-kewajiban suci yang telah digariskan juga akan segera terhapuskan.

Demikianlah Upanisad suci ini. Segala pujian kepada Sri Hari, Sang Kebenaran Mutlak. Atas segala karunia-Nya semoga sembilan penjuru mata-angin damai adanya.

Demikianlah berakhir Upanisad suci penghancur pengaruh buruk zaman Kali.

Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location