Mahabharata

UDYOGA PARVA BAB 5

JAWABAN DHRTARASTRA ATAS PESAN YUDHISTHIRA

 

Brahmana vang telah diutus ke istana Hastinapura telah sampai ke kota dan kerajaan. la pergi ke istana Dhrtarastra. Mendengar bahwa ia telah diutus atas nama Pandava, Bhisma, Vidura dan Dhrtarastra menyambut mereka dengan hormat. Mereka sangat peduli akan kenyamanannya. Mereka sangat ramah. la bertemu dengan mereka semua di aula pertemuan dimana mereka telah berkumpul untuk mendengarnya berbicara. la berkata: "Ini adalah pertemuan yang agung. Kalian adalah orang-orang yang telah mengetahui arti kebenaran. Kalian semua tahu tentang peraturan yang mengikat seorang ksatriya dan seorang raja. Kalian juga tahu mengenai hak-hak seorang raja. Tidak diragukan lagi. Sekarang putra-putra Dhrtarastra telah memiliki kerajaan mereka. Mengapa putra-putra Pandu tidak diijinkan untuk memiliki apa yang menjadi hak mereka? Putra-putra Dhrtarastra telah mengambil semuanya. Mereka telah terus-menerus berusaha untuk membunuh putra-putra Pandu. Bagaimanapun juga mereka tidak mampu melakukannya. Usaha mereka tidak mendatangkan hasil. Pandava berusaha untuk memiliki kerajaan mereka sendiri dan mereka memperluasnya dengan usaha mereka sendiri. Kerajaan ini dirampas dari mereka dengan kecurangan yang dilakukan oleh Duryodhana dan Sakuni. Hal ini juga telah diketahui oleh para sesepuh di istana ini. Sebenarnya telah direncanakan oleh mereka. Mereka dan ratu mereka dibuat menderita karena penghinaan di aula ini. Pandava dipaksa menghabiskan dua belas tahun di hutan dan satu tahun dalam persembunyian. Dua belas tahun berlalu dengan berbagai kesukaran. Tahun ketiga belas harus dilalui dengan melakukan penyamaran. Pandava tidak ingin mengingat semua ini. Mereka menginginkan setengah dari kerajaan. Terserah pada para sesepuh yang selalu mengetahui kebenaran untuk membujuk Duryodhana untuk menerima Yudhisthira apa adanya. Yudhisthira yang mulia hanya ingin setengah dari kerajaan ini. Ia tidak menginginkan perang. Ia tidak ingin menghancurkan seluruh ras ksatriya.

"Jika, bagaimanapun juga harus ada perang, karena ketamakan Duryodhana, Pandava ingin mereka tahu bahwa mereka tidak mau membantu.Yudhisthira memiliki tujuh Aksauhini saat ini. Beberapa raja telah bersiap-siap untuk mengorbankan hidup mereka demi Yudhisthira. Mereka memiliki Satyaki, Bhima, Nakula, Sahadeva. Ada Arjuna yang lebih agung dari Indra sendiri. Ia memiliki Krishna sebagai kusirnya dan temannya. Aku mohon bujuklah agar Duryodhana memberikan kembali kerajaan mereka. Atau kalau tidak minta ia untuk bersiap-siap untuk menghadapi kemarahan Pandava".

Bhisma mendengarkan kata-kata utusan itu. la berkata: "Aku benar-benar bahagia mendengar bahwa Pandava baik-baik saja, mereka memiliki Krishna yang menjadi teman mereka, bahwa mereka memiliki sejumlah raja-raja yang membantu mereka dan mereka menghormati Dharma dan kebaikan seluruh dunia secara umum, mereka tidak berpatokan pada kekuatan mereka. Aku bahagia mendengar bahwa Yudhisthira amat menyukai perdamaian. Apa yang mulia katakan sejauh ini adalah benar. Tidak diragukan lagi. Engkau adalah seorang brahmana, kata-katamu sangat tajam dan sangat menyengat. Diplomasimu tidak diragukan lagi. Pandava telah diperlakukan dengan buruk oleh Kaurava. Mereka telah melalui masa-masa yang sulit karena sepupu-sepupunya. Penderitaan mereka sangat banyak. Mereka berhak atas tanah leluhur mereka. Kata-katamu mengenai Arjuna juga benar. Tidak ada seorangpun yang menyamainya. Kami semua mengetahui hal itu".

Saat Bhisma berbicara, Radheya bangkit dan berkata: "Semua ini tidak ada artinya". la melihat Duryodhana dan memberi salam pada brahmana. la berkata: "Sangatlah bodoh dan menggelikan mengulangi hal yang sama terus-menerus. Yudhisthiramu telah dikalahkan dalam permainan dadu oleh Sakuni yang bermain atas nama Duryodhana. Yudhisthira pergi ke hutan dan berjanji mematuhi syarat-syarat tertentu yang harus ia patuhi. Sekarang, tidak mematuhi syarat-syarat itu ia menginginkan kerajaan itu kembali; ia bergantung pada dukungan yang ia dapatkan dari Matsya dan Drupada, ayah mertuanya. Dengarkan aku, wahai Rsi bijaksana. Aku tahu raja kami Duryodhana. Engkau tidak boleh menakutinya. Ia tidak akan membagi satu jengkal tanahpun karena ketakutannya. Apabila ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, maka ia akan memberikan seluruh kerajaan. Semua yang ia inginkan adalah melakukan keadilan. Permintaan Pandava tidaklah benar. Mereka harus memenuhi syarat yang mereka setujui. Biarkanlah mereka mengembara di hutan selama dua belas tahun lagi sesuai dengan syarat itu. Mereka bisa kembali dan bisa hidup sebagai pelayan Duryodhana. Mintalah Yudhisthira agar ia lebih bijaksana untuk melepaskan keinginannya yang tidak baik untuk memiliki kerajaan yang bukan miliknya. Jika Pandava tetap bersikeras untuk berperang, mereka nanti akan ingat kata-kataku".

Bhisma tidak suka kata-kata Radheya. Ia menjadi marah. Ia berkata: "Radheya, aku muak dengan kata-katamu. Ingat apa yang telah engkau lakukan ketika Arjuna bertarung dengan enam prajurit secara bersamaan, baru-baru ini. Aku rasa engkau tidak suka diingatkan tentang tingkah lakumu saat itu. Di kerajaan Virata, engkau telah melihat bagaimana ia telah mengalahkan kita semua. Apakah engkau mengalahkannya? Tidak! Engkau harus melarikan diri untuk menyelamatkan hidupmu. Jika engkau tidak melakukan apa yang dikatakan oleh brahmana ini, sudah pasti kita semua akan terbunuh dalam medan peperangan. Aku tahu bahwa Duryodhana dan pasukan penasehatnya yang jahat akan dimusnahkan".

Dhrtarastra mendapat kesempatan untuk berbicara. la menenangkan Bhisma dan ia berbicara pada Radheya dengan kasar. Ia tidak setuju dengan kata-katanya dan berkata: "Radheya, aku yakin Bhisma yang agung mengatakan itu semua demi kebaikan kita: bagi Kaurava demikian juga demi Pandava. Tidak benar, Radheya, jika dirimu harus berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua". Dhrtarastra mengalihkan pandangannya pada utusan Drupada. Ia berkata: "Aku meminta dirimu untuk kembali pada Pandava dan aku akan mengutus Sanjaya untuk menyampaikan pesanku. Aku harus merundingkan hal ini sebelum aku mengambil keputusan. Katakanlah pada anakku Yudhisthira bahwa Sanjaya akan segera datang".

Brahmana itu kembali ke Upaplavya. Ia memberitahu Pandava tentang pembicaraan di istana Hastinapura. Ia mengatakan sebenarnya tentang apa yang telah terjadi. la menceritakan tentang pasukan yang telah dikumpulkan untuk membantu Duryodhana. Ia menceritakan tentang banyak dan kekuatan pasukan itu. Mereka semua mendengarkan laporannya. Mereka sekarang menunggu kedatangan Sanjaya. Ia akan membawa pesan dari sang raja.

Beberapa hari kemudian. Sanjaya disambut dengan rasa bahagia dan hormat oleh Yudhisthira. Mereka saling memberi salam. Basa-basi diantara mereka sudah selesai. Yudhisthira berkata: "Sanjaya, aku berharap para sesepuh di istana tidak berbicara hal yang buruk tentang kami. Aku masih berharap bahwa dirimu akan membawa kabar yang gembira dari Hastinapura. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku hanya berharap Duryodhana dan teman-temannya mengingat kami karena kami harus diingat. Aku yakin mereka telah melupakan Arjuna dan kemahirannya. Aku harap mereka tahu bahwa ia adalah musuh yang kuat dalam peperangan. Mereka juga harus mengingat Bhima dan keterampilannya memainkan gada. Mereka harus mengetahui tentang penaklukan yang dilakukan oleh Bhima saat melakukan Rajasuya. Mereka tentu saja, harus ingat, saudaraku Nakula dan Sahadeva. Aku berharap Duryodhana mengingat pertarungan dengan Gandharva yang bernama Citrasena, selama masa pembuangan. Duryodhana tidak bisa melupakan Dvaitavana secepat ini! Ia harus ingat bahwa ia berhutang nyawa pada saudara-saudaraku yang baik yang telah bertarung dengan Gandharva dan menyelamatkan sepupu-sepupuku". Yudhisthira terdiam sesaat. Air mata keluar dari matanya. Ia berkata: "Satu perbuatan, satu perbuatan baik, Sanjaya tidaklah cukup untuk mencapai kebahagiaan. Ini sudah terbukti bahwa aku bisa melihat bahwa semua usahaku untuk memperoleh cinta Duryodhana tidak ada gunanya".

Sanjaya mulai berbicara. Ia berkata: "Di istana Dhrtarastra, di sekeliling Duryodhana ada orang-orang yang baik dan ada orang-orang yang jahat. Dhrtarastra akan berdosa jika ia membiarkan hal yang buruk menimpamu. Engkau selalu berpegang teguh pada kebenaran. Ia sama sekali tidak setuju dengan ketidakadilan yang terjadi padamu. la menyesalinya siang dan malam. Ia juga tidak melupakan kemampuan keponakan-keponakannya dalam hal bertarung. Ia ingat pada Bhima dan gadanya. Ia telah mengetahui beberapa bukti dari keagungan Arjuna. la sudah bersusah payah untuk menyelidiki keadaan kalian selama dua belas tahun masa pembuangan ini.

"Bagaimana masa depan kami tidak bisa diketahui oleh siapapun. Siapa yang pernah berpikir, penguasa dunia, akan menjalani tiga belas tahun masa pembuangan? Sang raja benar-benar bergantung pada kecerdasan untuk menemukan jalan menghadapi masalah ini. Ia tahu bahwa putra-putra Pandu tidak akan pernah menyimpang dari jalan dharma, demi kebaikan mereka sendiri. Oleh karena itu ia berharap, dengan kecerdasanmu, engkau akan dapat melihat bahwa putra-putra Dhrtarastra dan Pandu tidak akan saling bertarung satu sama lain. Sang raja telah berunding dengan seluruh orang-orang istana dan mengirimkan pesan ini padamu. Dengarkanlah dengan baik".

Yudhisthira meminta semua ksatriya-ksatriya untuk berkumpul. Krishna ada disana, Satyaki, Virata, Drupada, Dhrstadyumna dan keempat saudara Yudhisthira. Sanjaya menyampaikan pesan Dhrtarastra. "Aku menyampaikan
salamku pada putra-putraku Yudhisthira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sahadeva. Juga pada Krishna, Satyaki, Chekitana, Virata dan Drupada. Aku yakin Dhrstadyumna dan Draupadi juga akan hadir ketika pesan-pesan ini disampaikan. Yudhisthira, aku memintamu demi kedamaian. Engkau memiliki sifat-sifat yang baik. Engkau termasyur karena cintamu, kebencianmu terhadap kejahatan dan kelicikan. Engkau telah terlahir dalam keluarga yang agung. Engkau tidak akan pernah melakukan apapun yang akan mempermalukan nama keluarga. Perbuatan yang tidak baik seharusnya tidak engkau pertimbangkan lagi, oleh dirimu yang selalu berbuat baik. Jika setelah tahun-tahun yang telah kau lalui dengan melakukan kebenaran, engkau sekarang akan melakukan perbuatan yang memalukan, hal ini akan merusak nama baikmu seperti setitik warna hitam yang akan merusak pakaian yang berwarna putih. Aku berharap bahwa engkau
tidak akan melakukan hal yang bisa menghancurkan seluruh dunia. Ini adalah sebuah dosa. Hal ini akan mengarahkan dirimu ke neraka. Engkau telah bersiap-siap untuk menghancurkan dunia. Bukankah ini dosa? Apakah engkau menang
atau kalah tidaklah penting.

"Tidak ada sesuatupun yang seperti pengorbanan hidup seseorang demi kebaikan satu keluarga. Benar sekali, hanya mereka yang akan diberkahi dan juga teman-teman mereka, dan orang-orang yang mendoakan mereka, yang lebih memilih untuk menyerahkan kehidupan mereka daripada harus menghancurkan sepupu-sepupu mereka. Jika kalian tetap bersikeras untuk bertarung dengan Kaurava, mungkin kalian akan mampu untuk menghancurkan mereka. Tetapi apa yang akan engkau dapatkan? Engkau tidak akan bahagia selama hidupmu karena kematian keluarga tidak akan membawa kebahagiaan. Kalian akan hidup dalam kematian jika kalian hidup setelah kematian sepupu-sepupumu. Pasukan kalian sangat kuat. Kalian mungkin memiliki ksatriya-ksatriya yang agung yang bertarung di pihak kalian. Kalian memiliki Krishna yang membantu kalian. Mungkin kalian akan menang. Dan lagipula, pasukan Kaurava sangat kuat. Tak terkalahkan. Bhisma, Drona, Krpa, Asvatthama, Radheya dan ksatriya-ksatriya yang lain telah bergabung dengan pasukan Kaurava. Pasukan putra Dhrtarastra benar-benar sangat kuat. Kalian harus berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk berperang. Oleh karena itu Yudhisthira, aku merasa tidak ada gunanya kemenangan atau kekalahan itu. Putra-putra Kunti, yang telah melakukan kebenaran selama bertahun-tahun tidak boleh menodai nama mereka dan nama baik mereka dengan melakukan tindakan ini. Oleh karena itu aku memberi hormat pada Krishna dan Drupada dan berdoa semoga malapetaka ini bisa dicegah. Aku memiliki harapan, Krishna dan Arjuna pasti akan menghormati kata-kataku ini. Aku berbicara demi kebaikan dunia. Krishna dan Arjuna lebih baik mati daripada mengabaikan kata-kataku. Aku dan pamanku Bhisma memintamu untuk tidak memikirkan tentang perang lagi. Pikirkanlah tentang perdamaian antara putra-putra Pandu dan Dhrtarastra".

Yudhisthira sangat terkejut dan sedih atas kata-kata pamannya. Ia marah. la berkata: "Tetapi ini semua tidak adil! Pamanku yang terhormat itu mencoba untuk menuduhku melakukan kekejaman dengan sengaja. Tentu saja aku menginginkan kedamaian. Aku tidak meminta untuk melakukan perang. Aku tidak setuju berperang dengan sepupu-sepupuku. Aku sudah mengatakan melalui pendetaku bahwa aku tidak menginginkan perang tetapi aku menginginkan kedamaian. Siapakah yang menginginkan perang selama kita masih bisa berunding untuk mencegah peperangan itu? Setelah hidup cukup lama di dunia ini, apakah engkau pikir aku tidak cukup bijaksana untuk menyadari keagungan kedamaian? Orang bodoh manakah yang ingin bertarung jika ia bisa mendapatkan
keinginannya tanpa bertarung? Putra-putra Kunti terkenal karena mereka mengikuti jalan kebenaran. Ini adalah kenyataan yang sudah diketahui semua orang.

"Aku menyadari satu hal. Api, ketika diberikan, membakar, sebelum menghancurkan segalanya, tidak akan pernah puas. Keinginannya untuk membakar semakin besar ketika terus dibiarkan membakar. Pikiran Dhrtarastra seperti api. Semakin banyak ia mendapatkan, semakin banyak yang ia inginkan. Jika bukan karena ini kita tidak mungkin mengembara di hutan seperti seorang pengemis! Tetapi kita tetap berbaik hati untuk mengingat hal itu semua. Sang raja sendiri memiliki masalah. Ia mencari perlindungan dalam kemuliaan orang lain, menghilangkan sifat-sifatnya sendiri. Aku rasa ia melakukan perbuatan yang bodoh. la bersalah pada kita karena hal-hal tertentu. Sekarang biarlah ia bersiap-siap untuk mendapatkan pembalasan. Sang raja memiliki semua harta benda. Mengapa ia menangis dan mengeluh? Ia akan memberikan dorongan pada dosa-dosa dan keegoisan anaknya dan cara-caranya yang jahat. Ia telah membantu dan mendorong kejahatannya. Ia hanya memikirkan satu hal: kesenangan putranya. Duryodhana tidak akan mendengarkan kata-kata pamannya, Vidura adalah sahabat baik mereka. Tetapi Duryodhana, dan ayahnya juga memperlakukannya seakan-akan ia adalah musuh bebuyutan mereka. Dhrtarastra hanya ingin menyenangkan putranya, sehingga ia membiarkan semua ketidakadilan di istananya. Ia sangat menyayangi Duryodhana sehingga ia tidak memperdulikan kata-kata Vidura, Kaurava yang paling bijaksana dan berpandangan jauh ke depan. Putranya ini telah melangkah dalam dosa. Ia terlalu berbangga diri, sombong dan tinggi hati. Ia tidak tahu bagaimana caranya bertingkah laku pada orang yang lebih tua. Kata-katanya adalah kebohongan belaka. Bahasanya tidak cocok sebagai putra dari keluarga yang tertua di jagat ini. la busuk. Untuk putra seperti itu, rajamu ini, Dhrtarastra, dengan sadar ingin mengabaikan Dharma.

 

"Pada hari permainan dadu dimainkan, Vidura berbicara pada sang raja dan memintanya untuk menghentikan permainan. Tetapi ia tidak memperhatikan kata-katanya. Kata-kata yang ia ucapkan: "Siapa yang menang?" Setiap lemparan dadu, orang tua ini hanya mengatakan kata-kata itu. Ia sangat bahagia karena anaknya telah membuat aku kehilangan kerajaanku. Pada akhirnya Duryodhana mengatakan dan berterus terang atas kebenciannya pada Pandava. Kami tahu bagaimana hatinya. Tetapi paman kami berbeda. Ia berhati seperti anaknya tetapi ia tidak pemberani seperti anaknya. Duryodhana akhirnya mengatakan bahwa ia tidak akan mengembalikan kerajaan pada kami dan kami harus bertarung untuk mendapatkannya. Tetapi raja ini lebih jahat daripada Sakuni. Ia mencoba mengatakan bahwa aku menginginkan perang dan ia berharap untuk damai. Pada hari ketika permainan dadu ini dimainkan aku melihat bahwa sang raja tidak memperhatikan kata-kata Vidura. Aku tahu bahwa kehancuran putra-putra sang raja sudah semakin dekat. "Sanjaya, pikirkanlah tentang istana Kaurava. Pikirkanlah tentang pemberi kuasa disana. Istana itu dihiasi oleh para pendosa, Duryodhana yang egois. Sakuni, Dussasana, dan Radheya, seorang Sutaputra, adalah penentu hukum. Aku tidak mengerti bagaimana kerajaan ini bisa berkembang jika tidak dijaga dengan baik oleh orang-orang ini. Dhrtarastra menginginkan seluruh muka bumi ini. Ia menginginkan agar kekuasaannya tidak diperdebatkan lagi. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Ketika ia telah mengambil kerajaan ini dengan menipu, dan ketika ia seperti anak-anak yang telah merebut mainan dari tangan anak lainnya, bagaimana ia memiliki kerajaan itu begitu lama tanpa ada orang yang berhak meminta kerajaan itu? Kami adalah orang-orang yang baik: kami adalah orang-orang yang melakukan kebenaran. Tapi ingatlah dengan apa yang telah terjadi pada kami karena dirinya dan putra-putranya. Beritahukan pada rajamu aku juga tidak menyukai perang seperti dirinya, walaupun alasan tidak sukanya terhadap perang berbeda denganku. Katakan padanya bahwa aku hanya meminta keadilan. Katakan padanya bahwa kerajaanku, Indraprastha harus dikembalikan padaku. Biarlah Duryodhana mengembalikannya padaku dan tidak akan ada perang".

Sanjaya berkata: "Kau belum mendengar pesan ini secara keseluruhan. Aku memiliki beberapa kata yang harus diungkapkan. Sang raja berkata: "Mempertimbangkan kehidupan manusia di bumi ini. Hidup ini singkat. Mengapa kalian membiarkannya dalam keburukan? Hidup dengan rasa malu sama dengan kehidupan yang hancur. Mungkin, Kaurava tidak akan pernah memberikan kerajaan mereka. Kecuali terjadi perang, mereka akan mempertahankan kerajaanmu. Akan lebih baik bagi kalian untuk mnghabiskan seluruh hidup kalian dengan meminta sedekah di kerajaan Vrsni dan Andhaka. Hal itu akan lebih baik bagimu daripada memperoleh kekuasaan dengan menghancurkan seluruh dunia. Hidup di dunia ini sangatlah singkat. Penuh dengan penderitaan dan dosa serta ketidakbahagiaan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menjaga kehidupan seseorang bebas dari dosa. Ketidakstabilan hidup adalah kebalikan dari kemasyuran yang abadi. Keinginan akan sesuatu di bumi ini membuat seseorang kehilangan kejujuran dan membuatnya melakukan dosa dan menghalanginya untuk mendapatkan nama baik. Seorang manusia yang menginginkan keabadian harus menghilangkan semua keinginan dalam hatinya. Keinginan akan harta benda akan membelenggu kita. Hal itu adalah sebuah halangan jalan manusia untuk mendapatkan keabadian. Yudhisthira, engkau telah menghabiskan banyak waktumu dengan orang-orang yang telah menarik diri dari kehidupan keduniawian. Mengapa engkau tidak mempelajari apapun dari mereka? Mengapa engkau masih menginginkan benda-benda keduniawian? Lepaskanlah semua. Keinginanmu ini adalah keinginan yang salah. Tahun-tahun yang penuh dengan kebaikan ini akan percuma jika engkau tetap melakukan dosa ini. Pusatkanlah pikiranmu untuk mendapatkan kekayaan di alam sana dan melepaskan segalanya di dunia ini. Walaupun engkau memenangkan perang ini dan mengirim Kaurava menuju kematian, apa yang akan engkau peroleh? Penyesalan. Aku akan memberitahumu sekali lagi. Engkau akan tua dan segera mati. Engkau mungkin melakukan Rajasuya dan Asvamedha. Semua kejayaan itu akan tertutupi karena tindakanmu ini. Janganlah lakukan ini. 

"Dan ia juga mengatakan hal ini. Tiga belas tahun yang lalu, ketika apa yang disebut dengan ketidakadilan ini terjadi padamu, engkau harus bertarung dengan putra-putraku. Kau memiliki Krishna, Balarama, Drupada, Satyaki dan banyak orang yang membantumu. Engkau tidak perlu bertarung. Bahkan, engkau tidak akan bertarung walaupun kami memaksamu untuk bertarung. Sekarang sudah tiga belas tahun, engkau sangat marah. Telah bersabar begitu lama, aku yakin engkau tidak akan kesulitan untuk melanjutkan kesabaran itu sampai kau mati. Engkau telah membuai kami dalam rasa aman yang palsu dan membuat kami berpikir bahwa dirimu tidak keberatan dengan apa yang telah terjadi padamu. Setelah bertahun-tahun mengapa engkau membuka luka lama? Manusia yang bijaksana akan selalu berusaha untuk mencegah orang lain untuk bertarung. Tetapi nampaknya kau sudah kehilangan akal sehat. Orang-orang mengatakan bahwa orang bijaksana tidak akan marah karena kemarahan adalah racun yang paling berbahaya yang dapat melumpuhkan pikiran. Dikatakan bahwa manusia yang bijak akan mengendalikan kemarahannya, menelan kemarahan itu seperti obat, dan mendapatkan kedamaian. Engkau mungkin mampu membunuh Bhisma, Drona, Krpa, Salya, saudara-saudara Duryodhana dan Duryodhana dengan temannya Radheya. Kesenangan apa yang akan engkau peroleh atas kematian mereka? Beritahu aku. Dunia yang dibatasi oleh lautan ini akan menjadi milikmu. Aku menganugerahimu. Tetapi, Yudhisthira, dirimu tidak akan bisa melarikan diri dari umur yang tua dan kematian. Aku tahu siapa dirimu dan pikiranmu yang halus. Engkau akan menyesali pembunuhan terhadap sepupu-sepupumu setelah mereka semua mati. Aku memintamu untuk tidak marah lagi padaku dan juga pada putra-putraku. Aku memintamu untuk kembali ke hutan dan menghabiskan hidupmu disana. Atau hidup dengan teman dan sepupu-sepupu Krishna. Engkau bisa hidup dengan sedekah yang dikumpulkan di kerajaan Vrsni. Aku memintamu untuk tidak menyimpang dari jalan kebenaran yang telah engkau jalani selama ini dan menghancurkannya dengan mengambil jalan dosa."

"Ditulis Ulang Oleh: Kamala Subramaniam"

Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location