Mahabharata

UDYOGA PARVA BAB 3

KRISHNA - KUSIR ARJUNA

 

Setelah Duryodhana pergi, Krishna berkata pada Arjuna: "Betapa bodohnya dirimu temanku! Mengapa engkau harus memilih aku, aku yang tidak bersenjata, dibandingkan dengan pasukanku yang sangat kuat? Pikiranmu telah dikabulkan oleh kejadian-kejadian belakangan ini". Arjuna tertawa dengan keras. Ia berkata: "Yang mulia, apa peduliku dengan apa yang akan terjadi dalam perang? Apa peduliku siapa yang bertarung pada pihak yang mana? Kami menginginkanmu. Engkau telah menjadi pembimbing kami, teman kami. Apakah kau pikir kami tidak tahu siapa dirimu? Engkau mencoba untuk mengujiku. Aku ingin engkau yang mengendalikan tali kekang kuda-kuda putihku. Dengan dirimu menjadi kusirku, jika aku memasuki medan peperangan, maka dunia akan tahu, akan dapat melihat, bagaimana Dharma akan tegak dalam dunia yang penuh dosa ini. Tuanku, bukan cemeti yang akan engkau pegang di tanganmu yang terberkahi. Tetapi penegak Dharma. Dirimu, tuanku, Dharma itu sendiri, yang mengambil wujud dalam bentuk manusia, bagi Pandava yang agung. Aku akan termasyur di masa depan sebagai manusia yang mana Tuhan mengendalikan keretaku menuju medan perang. Namaku akan abadi, karena itu engkau akan bernama Parthasarathi.

"Ketika tali kekang kuda-kuda di tanganmu, mengapa aku harus gelisah? Tali kekang kereta kehidupan akan berada di tanganmu. Mengapa aku harus gelisah tentang kematian? Dalam badai kehidupan kami, kami seperti perahu yang terperangkap dalam badai. Engkaulah yang akan menjadi orang yang akan membawa kami ke tepian. Kami memilikimu. Dimana ada Dharma, ada kemenangan, dan dimana Krishna berada, disana ada kebenaran. Kami tahu hal itu. Janganlah menggodaku. Aku tahu siapa dirimu. Aku menginginkanmu. Aku memilikimu. Tidak ada yang aku inginkan lagi di dunia ini. Engkau akan bercocok tanam di negeri yang bernama Bharatavarsa. Engkau akan meredamnya dengan darah ksatriya yang penuh dosa. Di negeri ini engkau akan menanam bibit Dharma, Kebenaran dan Kebaikan. Karena dirimu, bumi ini disembuhkan dari racun yang mencoba untuk mengancam kehidupannya. Musim semi akan menjadi lebih hijau karenamu. Awan-awan hujan akan lebih gelap karenamu. Warna musim gugur akan lebih keemasan karena dirimu. Kami bahagia karena dirimu akan bersama kami selamanya. Musuh-musuh kami akan engkau musnahkan dengan satu tanganmu, atau mungkin olehku. Dunia akan tahu bahwa Krishna memihak pada Pandava. Itulah yang aku inginkan".

Krishna sangat senang dengan kata-kata Arjuna. Ia mengambil tangan kanannya dan membawanya menuju ke dalam istana. Satyaki menunggu mereka dengan gelisah. Krishna tersenyum padanya dan memberitahunya peristiwa yang baru saja berlalu. Ia berkata: "Lihat Satyaki, Arjuna telah mengambil tangan kananku dan mengundang kekalahan. "Dengan pandangan yang bahagia Satyaki berkata: "Terimakasih Tuhan, semuanya telah terjadi seperti yang kita inginkan. Jika saja dirimu tahu betapa marahnya aku pada Arjuna karena ia datang setelah Duryodhana!". Semuanya terdiam. Kemudian Satyaki berkata: "Duryodhana sekarang menghadap Balarama. Krishna, bagaimana jika Balarama memihak pada Duryodhana". Krishna berkata: "Satyaki, jangan khawatir. Balarama telah memutuskan untuk tidak terlibat dalam medan perang. Ia tidak akan bertarung. la mencoba untuk mempengaruhiku agar tidak bergabung dengan Pandava. Tetapi
aku tetap bersikeras. Ia tidak senang atas keputusanku itu, tetapi yang paling penting ia tidak akan bertarung".

Setelah beberapa saat Krishna berkata: "Aku bisa melihat otak Sakuni yang licik dibalik keterburu-buruan teman kita Duryodhana. Sakuni tahu dukunganku sangatlah penting bagi Kaurava. Sehingga karena itulah ia mengutus Duryodhana padaku. Tetapi manusia yang sederhana ini tidak tahu bahwa ia telah diberikan kulit buahnya dan Arjunalah yang mendapatkan isinya. Ini adalah permainan takdir. Aku bahagia karena aku telah menyelamatkan diriku dari rasa malu dengan mengatakan 'tidak' pada Duryodhana, dengan terlambatnya Arjuna. Jika aku tidak melihat Arjuna terlebih dahulu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan". Satyaki berkata: "Aku tahu apa yang akan engkau lakukan. Engkau akan memberitahunya bahwa engkau telah memutuskan untuk memihak Pandava; bahwa dirimu tidak setuju dengan tindakan putra-putra raja yang buta itu. Engkau pasti akan mengatakan kata-kata ini, hanya itu. Aku mengenalmu, Krishna".

Krishna tersenyum dan berkata: "Hari ini semua orang mengetahui siapa diriku kecuali diriku sendiri. Arjuna berkata "Aku tahu siapa dirimu", dan sekarang engkau mengatakan "Aku tahu siapa dirimu". Beberapa waktu yang lalu Balarama dan aku membahas tentang perang. Ia berkata: "Aku tahu siapa dirimu, Krishna. Engkau ingin sekali melihat perang ini. Engkau telah memutuskan kematian Duryodhana dan Radheya. Aku tidak ingin bertarung melawanmu. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak perduli apa yang akan terjadi pada Pandava dan Kaurava. Aku sangat sedih dengan apa yang akan terjadi pada Duryodhana. Ia anak yang baik. Ayahnya yang jahatlah yang telah menjadikannya seperti itu. Ia memiliki sifat-sifat yang mulia. Tetapi itu semua tidak akan diingat dalam dunia manusia. Mereka akan ingat hanya tentang permainan dadu dan pembuangan Pandava. Aku berharap bahwa seseorang seperti aku pergi ke Hastinapura untuk membuatnya menyerahkan kerajaannya pada Yudhisthira. Orang yang salah telah terlihat. Lagi pula, dadu telah dilempar sekali lagi. Kali ini, Kaurava yang akan kalah. Sakunilah dahulu yang memiliki dadu yang penuh dengan kecurangan. Kali ini engkau yang akan memegang dadu itu. Sama curangnya dengan dadu yang dimiliki Sakuni. Takdir Duryodhana yang malang dan Radheya telah aku ketahui. Engkau akan bermain dadu dengan ksatria-ksatriya ini sebagai pionnya. Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu siapa dirimu, Krishna. Janganlah membicarakan ini lagi. Aku akan menjauh dari perang ini." Satyaki, Balarama sama sekali tidak bahagia. Tetapi aku tidak setuju dengannya. Tidaklah benar hanya diam dan melihat ketidakadilan ini terjadi. Ada saatnya ketika campur tangan kita sangat diperlukan. Putra-putra Dhrtarastra yang penuh dosa tidak boleh diijinkan untuk melanjutkan semua ini. Waktu untuk membuat perhitungan telah tiba. Mereka harus menderita karena dosa-dosa mereka. Aku sangat bersedih untuk mereka. Sangat benar, apa yang dikatakan oleh Balarama. Sangat benar bahwa satu sifat buruk Duryodhana telah menutupi semua sifat baiknya. Tetapi itu tidak berarti bahwa Yudhisthira, orang yang mulia diantara umat manusia, harus menderita, dan menderita selamanya. Apa yang telah dilakukan oleh Duryodhana pada Pandava dan pada harga diri Draupadi harus mendapatkan hukuman. Sumpah Bhima bukanlah omongan belaka. Semua ini telah disuratkan. Terserah kepada kita untuk melihat Pandava memenangkan perang ini. Aku tidak menyukai peperangan, sama dengan Yudhisthira. Aku akan mencoba sekuat tenagaku untuk mencegahnya. Tetapi aku tahu bahwa semua usahaku tidak akan berhasil. Tetap saja, aku akan mencoba. Tetapi sekarang, mari kita berangkat ke Upaplavya. Yudhisthira menunggu kedatangan kita dengan tidak sabar".

"Ditulis Ulang Oleh: Kamala Subramaniam"

Jagannatha Temple
Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location