Mahabharata

UDYOGA PARVA BAB 4

ENAM BELAS AKSAUHINI

 

Salya mendengar bahwa Pandava telah menyelesaikan masa pembuangan mereka. Ia berencana untuk pergi dan melihat mereka. Ia mempertimbangkan hal ini karena pembawa pesan Yudhisthira telah sampai ke kerajaannya. Yudhisthira memintanya untuk memihaknya dalam peperangan yang tak terelakkan lagi. Salya sangat senang membantu keponakannya. Ia meninggalkan kota dengan pasukan yang berjumlah satu Aksauhini. Ia ditemani oleh putra-putranya yang sangat kuat. la berangkat menuju ke Upaplavya.

Duryodhana mendengar bahwa Salya telah pergi ke Upaplavya. Ia memutuskan untuk menarik simpati pasukan yang besar ini. Ia mempersiapkan agar peristirahatan di tempat tertentu. Ia membangun kemah-kemah untuk kenyamanan mereka, kemah-kemah dipersiapkan dengan baik dan menghibur mereka yang pasti menyenangkan raja Madra. Duryodhana sangat perduli dengan kenyamanan Salya, yang telah dihibur seakan-akan ia adalah Indra. Salya sangat senang dan merasa tersanjung. Ia berpikir bahwa semua ini dipersiapkan oleh Yudhisthira. Ia bertanya pada pelayan yang telah mempersiapkan semuanya itu dan berkata: "Dimana utusan keponakanku Yudhisthira yang telah begitu bersusah payah? Aku ingin bertemu dengan mereka dan memberikan hadiah atas semua ini. Mintalah mereka menghadap padaku sehingga aku bisa menunjukkan rasa terimakasihku". Para pelayan ini tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Mereka menghadap Duryodhana dan memberitahu mereka segalanya. Ia melihat Salya sangat senang sehingga ia mau memberikan hidupnya untuk menunjukkan rasa terimakasihnya. Duryodhana berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memperlihatkan dirinya pada Salya.

Duryodhana pergi ke kemah Salya dan memperkenalkan dirinya. Adalah kejutan yang besar bagi Salya ketika ia melihat bahwa Duryodhanalah yang bertanggung jawab atas segalanya. Ia sangat senang padanya. Ia memeluknya dan berkata: "Aku mengatakan bahwa aku akan memberikan hadiah pada orang yang sangat peduli padaku. Kata-kataku bukan kata-kata belaka. Apa yang bisa aku lakukan untuk menunjukkan kebahagiaanku?" Duryodhana berkata: "Hanya satu hal yang membuatku senang, tuanku. Aku bersujud di kakimu meminta anugerah padamu. Berpihaklah padaku dan bantulah aku dalam perang ini".

Salya yang malang tidak tahu harus berkata apa. Ia telah berjanji. Ia harus menepatinya. Ia berkata: "Keponakanku Nakula dan Sahadeva, dan Yudhisthira yang mulia, suruhlah mereka menghadap padaku. Aku datang dengan pasukanku untuk membantu mereka. Tetapi engkau telah mengambil hatiku dengan rasa cintamu padaku. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan berada di pihakmu dan aku bertarung melawan keponakan-keponakanku. Tetapi sebelum itu aku harus pergi dan menghadap Yudhisthira dan menjelaskan segalanya padanya.


Aku ingin melihatnya dan memberikan berkah padanya. Ia telah melalui masa-masa yang sulit. Aku harus pergi memberikan salam padanya". Tidaklah mungkin bagi Raja Duryodhana untuk mencegah semua ini. Ia berkata: "Tentu saja. Sudah sepatutnya engkau pergi. Tetapi segeralah kembali dan jangan lupakan janjimu". Salya berkata: "Aku tidak akan melupakanmu. Engkau boleh kembali ke kotamu. Aku akan melihat keponakan-keponakanku yang tersayang dan kemudian aku bisa datang kepadamu". Salya berangkat ke Upaplavya dan bertemu dengan para Pandava. Yudhisthira menemuinya dan memberi hormat padanya. Kemudian datanglah saudara-saudaranya yang lain. Salya memeluk mereka semua dan berkata: "Aku bahagia melihat kalian selamat dan baik-baik saja setelah tiga belas tahun ini. Aku senang melihat Draupadi selamat dan sejahtera". Mereka duduk bersama dan membicarakan tentang kejadian-kejadian yang terjadi. Salya dengan sopan menceritakan tentang kabar mengenai janjinya pada Duryodhana. Yudhisthira benar-benar kecewa. Tetapi ia selalu berpikiran jauh ke depan. Ia berkata: "Aku mengerti bahwa engkau mengabulkan permintaan Duryodhana dengan sepenuh hatimu. Ini pantas dengan orang yang mulia sepertimu. Engkau bisa kembali ke kemah Kaurava. Sayang sekali kami harus bertarung dengan paman kami sendiri dalam perang ini. Mata Yudhisthira dipenuhi dengan air mata. Salya sangat sedih karena janjinya yang terburu-buru yang sekarang memaksanya untuk bertarung dengan putra-putra adiknya yang telah tiada. Hatinya sangat berat. Ia berkata: "Aku berharap ini tidak terjadi. Kalian tahu betapa aku mencintai kalian semua. Sekarang aku terikat dengan sesuatu yang tidak aku lakukan". Yudhisthira
berkata: "Ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk membantu kami. Engkau tidak perlu meninggalkan Duryodhana dan datang pada kami. Bukan itu yang aku pikirkan. Aku juga meminta bantuan darimu. Sebagai pamanku engkau harus mengabulkannya". Salya berkata: "Tentu saja. Aku akan mencoba untuk memperbaiki kejadian yang tidak baik ini". Yudhisthira berkata: "Ketika aku memikirkan tentang perang, aku tidak khawatir pada kalian terkecuali pada Radheya. la selalu menjadi saingan Arjuna. Ketika pertarungan antara Arjuna dan Radheya terjadi, engkau akan diminta untuk menjadi kusirnya. Engkau menyamai Krishna dalam seni mengemudikan kereta dalam medan perang. Ketika pertarungan yang menentukan ini harus terjadi antara Arjuna dan Radheya. Engkau harus melindungi hidup Arjuna. Jika engkau sangat menyayangi kami, engkau harus mematahkan semangat Radheya. Akan terjadi banyak pengaruh dalam keadaan kejiwaannya. Ia harus dibandingkan dengan Arjuna dan dirimu harus membuat Arjuna menjadi prajurit yang lebih baik. Aku tahu apa yang telah aku minta padamu tidaklah benar, tetapi engkau harus melakukannya. Aku sangat mengkhawatirkan Radheya", Salya berkata: "Yudhisthira, aku berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk membantu Arjuna saat bertarung. Aku akan mencemooh Radheya dan membuatnya kehilangan kepercayaan dirinya. Aku pasti akan membantumu. Penderitaan putra-putra Pandu dan penderitaan-penderitaan Draupadi harus terbalaskan. Penderitaanmu akan segera berakhir. 

Engkau akan memerintah dunia dan aku memberkahimu dengan sepenuh hati. Engkau akan memenangkan perang ini". Salya meninggalkan Pandava dan pergi ke Hastinapura. Hatinya sangat berat. la sangat sayang pada Pandava dan membuat hatinya sedih karena tidak bisa bertarung untuk mereka. Sekutu-sekutu telah mulai berdatangan dari kedua pihak. Banyak yang pergi menuju Upaplavya. Yang pertama datang adalah Satyaki dengan satu Aksauhini. Yang berikutnya adalah Jayatsena, putra Jarasandha, dengan satu Aksauhini pasukan. Yang berikutnya adalah lima Kekaya bersaudara dengan satu Aksauhini. Drupada datang kemudian. Ia membawa satu Aksauhini pasukan dengannya. la ditemani dengan putra-putranya Sikhandi, Dhrstadyumna dan putra-putra Draupadi. Virata membawa satu Aksauhini. Putra-putranya dan saudara-saudaranya datang bersamanya. Raja Panddya dan Nila, raja Mahismati, datang kesana bersama pasukannya. Pasukan yang telah terpilih yang menjadi satu Aksauhini. Jadi bersama-sama, Pandava memiliki tujuh Aksauhini. Pasukan mereka memenuhi jagat. Terlihat seakan-akan lautan telah melewati batasnya dan memasuki daratan.

Hastinapura dipenuhi dengan pasukan-pasukan yang bersekutu dengan Duryodhana. Bhagadatta, dengan satu Aksauhini adalah pasukan yang pertama tiba. Kemudian datang Salya dengan satu Aksauhini. Bhurisrava, Krtavarma, Jayadratha, Sudaksina raja Kamboja, Vinda dan Anuvinda, Avanti bersaudara, yang masing-masing membawa satu Aksauhini. Banyak yang lainnya, yang semuanya berjumlah tiga Aksauhini. Semuanya, Duryodhana memiliki sebelas Aksauhini melawan Pandava yang memiliki tujuh Aksauhini. Hastinapura dan Virata sekarang dipenuhi dengan pasukan-pasukan yang kuat. Pasukan Kaurava bermarkas di sepanjang tepi sungai Ganga.

"Ditulis Ulang Oleh: Kamala Subramaniam"

Sri Nilacala Dhama

Jl. Kelinci Raya No. 2F, Jakarta Pusat

Jakarta - Indonesia

Find our location